
Ketua DPW Partai Perindo NTT, Simson A. Lawa (Foto: Dok)
Peristiwa meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengetuk kesadaran publik akan rapuhnya perlindungan anak di tengah tekanan ekonomi. Tragedi yang menimpa bocah berusia 10 tahun itu menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi cermin persoalan mendasar dalam sistem pendidikan.
Anak tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku tulis untuk keperluan sekolah. Peristiwa ini tak hanya menyentuh sisi kemanusiaan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang peran negara dan lingkungan pendidikan dalam melindungi anak-anak dari keluarga rentan.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Perindo NTT, Simson A. Lawa, menilai kejadian tersebut sebagai peringatan keras bagi dunia pendidikan, khususnya di daerah yang masih bergelut dengan kemiskinan struktural. Menurutnya, pendidikan yang seharusnya menjadi ruang harapan dan kegembiraan justru berubah menjadi sumber tekanan bagi anak.
“Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman dan penuh harapan bagi anak-anak. Tapi dalam kasus ini, pendidikan justru berubah menjadi kengerian. Seorang anak kecil mengakhiri hidupnya dan meninggalkan sepucuk surat perpisahan kepada ibunya. Ini tragedi kemanusiaan yang sangat dalam,” ujar Simson di Kupang, Rabu (4/2/2026).
Simson menegaskan, tragedi tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata. Ia menilai, kasus ini mencerminkan kegagalan kolektif dalam membangun ekosistem pendidikan yang adil, manusiawi, dan berpihak pada anak-anak dari keluarga kurang mampu.








